Tadinya udah ga ada semangat posting, tapi gara2 denger lagu Mika yang "Blame it on Girls" jadi semangat lagi pengen posting...hahahaha liriknya aga nyeleneh ya tapi masih dapat dimengerti, silahkan dibaca lengkap liriknya di "Blame it on Girls".
Back at One
Saya percaya kalo semua hal di hidup ini wajib diusahakan, ga hanya karir saja yang wajib diperjuangkan begitu pula kalo kita bicara soal hati yang akan bermuara ke soal pencarian "soulmate"/"jodoh". Tahun ini saya diijinkan untuk mengevaluasi hati saya, diijinkan untuk melepas orang-orang yang saya sayangi, diijinkan untuk kembali menata hati...perjalanan menjadi sendiri lagi ini tidak bisa dibilang mudah, drama dan air mata pasti ada, tapi begitu juga dengan logika...setia mengikuti langkah-langkah kecil saya.
Dengan semangat mencapai cita-cita untuk punya keluarga sakinah, mawaddah dan warromah *hahahahaha* saya beranikan diri lagi untuk kembali ke anak tangga paling bawah...yaitu memulai untuk kenal dengan orang baru, laki-laki baru, pribadi baru...kalo kata sahabat saya,
"all worth it in time, believe that the whole trial and error process
will make u learn harder, faster, and lead u to the one"
Dan saya mau percaya bahwa si "the one" itu ada diluar sana, wanting to meet me.....*sedaaapppp.....
The 1st Step, the 1st Date
Salah satu serunya kembali menjadi single adalah kesempatan untuk ketemu banyak orang, setengah dari waktu luang saya habiskan untuk nongkrong bareng teman dan sahabat, diantara kumpul dan nongkrong bareng itulah saya banyak bertemu dengan muka-muka baru, tidak hanya lelaki tapi juga perempuan tidak hanya untuk pleasure dan social times but also business indeed. Back to the Jomblo-land, tentu saja banyak teman berdatangan dengan proposal comblang-mencomblangi dan saya selalu menjadi favorite mereka, katanya saya luwes masalah beginian, hahahahahaha lebih tepatnya saya terbuka si untuk dicomblangi, kenapa tidak?
u never know if u never try....
Sama saja dengan semua orang yang baru belajar melangkah lagi, saya pun punya rasa nervous terpendam, tentu saja ada banyak kecemasan, pertanyaan dan sekumpulan rasa tidak nyaman, tapi bukankah itu harga yang harus kita bayar untuk sampai ketujuan? mengalahkan rasa takut? dan walaupun kita sudah berhasil mengalahkan rasa takut dalam hati tetap saja ada faktor eksternal lainnya yang bisa menjadi hambatan.....sesuatu yang tak bisa kita kendalikan...sesuatu yang hanya dapat kita bantu dengan memahaminya. setidaknya begitulah saya artikan...
Blame it on the Past
Dalam langkah kecil saya, senang rasanya bertemu dengan banyak wajah dengan banyak cerita yang mereka bawa. Sepotong percakapan yang panjang membuat saya merasakan kekayaan hidup yang paling hakiki, yaitu dengan berbagi. Teman dalam pencarian masa depan, datang dengan salam, kenal karena kisah-kisah yang sengaja dibuka...diantaranya sangat private....terkadang saya bertanya apakah saya yang terlalu jago bercerita, saya suka heran sendiri kenapa cepat sekali mereka membuka kisah private nya? apakah ini trend laki-laki jaman sekarang??? atau memang salah saya yang banyak tanya? kata Mika dlagunya...."Blame it on Girls, who to know what to do"....
Dia bertanya ringan ketika kami menyusuri satu persatu pertokoan disebuah mall "tipe kamu kaya apa si".....sejujurnya saya bingung kalo ditanya seperti ini karena menurut saya kalo "TIPE" maka kita akan merujuk pada kriteria fisik, dan sejujurnya si diumur 20an ini saya tidak lagi terpaku pada fisik, jadi begitu pertanyaan tersebut dilempar saya pun menjawab "ga ada tipe si asal nyambung aja dan hati kena jadinya bisa suka".....si pelempar pertanyaan lalu membuka jawabannya tentang fisik macam apa yang dia suka dari perempuan...at that times saya bingung..kok dia mau ya jalan sama saya secara saya tidak terdiskripsikan sama secara fisik dengan tipenya....menyerupai saja tidak....*nyengir* :P
Akhirnya kami sampai disebuah cafe dan lagi-lagi teman baru saya sangat inisiatif dalam hal sharing cerita, kali ini dia menceritakan alasan putus dengan mantan terakhirnya....ceritanya cukup panjang dan sejujurnya saya tidak menyimak. Kenapa saya tidak menyimak? karena jauh didalam hati kecil, saya merasa bahwa seharusnya first date kami bersih dari hal-hal yang sifatnya masa lalu, boleh si dia cerita ttg masa lalunya tapi ga juga pas 1st date kaleeee....surely now i figure my type would be a man who didn't ask annoying question and who didn't crack to soon... specially about the past relationship.
Diakhir ceritanya dia tanya kenapa saya putus dari relationship saya yang terakhir? sejenak saya tatap mukanya...dan saya akhirnya cerita tidak sepanjang dia, singkat dan intinya saja...kenapa? karena saya yakin itu pertemuan terakhir kami...kenapa terakhir? karena saya rasa dia belum sembuh dari lukanya. Plus saya rasa saya bukan tipenya ya hahahahahaha... Trial and Error? yes it is, but still lesson learned.
Dalam tiap langkah kecil saya, walau hanya maju 3 atau 4 langkah saya berharap langkah-langkah tersebut sepenuhnya berisikan keoptimisan, berisikan harapan untuk sampai ke masa depan, dan walau hanya sesimple menikmati hari sabtu dengan wajah baru...saya mau langkah kecil saya tidak menganjal langkah lainnya, termasuk langkah yang seharusnya mengobati luka yang lalu. setidaknya begitu menurut pemahaman sempit saya.
Life could be simple but you never fail
To complicate it every single time
You could have children and a wife, a perfect little life
Like a baby you're a stubborn child -- what's the matter
Always looking for an axe to grind -- what's the matter
While you're wondering what the hell to do
We were wishing we were lucky like you